top of page

Migration Museum, Adelaide: We are different but we are one we are Australian!

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 29 Agu 2016
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


“Do you believe in ghost? At first I didn’t until one day after I became the director of this museum.

I was in my office during my early days as director when I see a young woman wearing 19th century dress standing in my office. After that, I believe in ghost”.

Kalimat di atas diucapkan oleh Viv Szekeres, salah seorang dosen saya di kelas Curatorial and Museum Studies A saat kami sedang kuliah di Migration Museum tahun 2008 silam. Saat itu beliau adalah direktur Migration Museum, Adelaide. Migration Museum adalah museum sejarah sosial yang menceritakan tentang sejarah South Australia, terutama mengenai (sejarah) pemukiman dan kebudayaan berbagai penduduk di South Australia yang multietnis. Narasi di museum diangkat dari cerita-cerita individual dan komunitas. Pernyataan Viv di awal kuliah tersebut membuat saya merinding juga. Apalagi saya orang Indonesia yang sejak kecil biasa dijejali cerita hantu. Saya jujurnya jadi suka agak takut kalau harus sendirian di museum ini. Dalam rangka tugas kuliah, saya kebetulan kebagian magang selama 2 minggu di museum kecil nan keren ini.

Terletak di tengah kota dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari kampus Adelaide University di North Terrace, gedung Migration Museum sendiri menempati bekas gedung Adelaide’s Destitute Asylum yang dibangun tahun 1870an.1 Destitute Asylum adalah semacam ‘tempat berlindung’ bagi masyarakat yang membutuhkan. Di pertengahan abad 19 Australia mengalami gold rush. Banyak pria pergi ke daerah tambang emas untuk mencari nafkah sebagai penambang dan meninggalkan keluarganya. Namun banyak pula dari mereka yang menjadi korban kecelakaan di tambang dan tak pernah kembali. Oleh sebab itu banyak anak-anak dan perempuan yang kemudian ‘terlantar’. Destitute Asylum (yang didalamnya juga terdapat rumah sakit dan semacam panti asuhan) dibangun untuk mengatasi masalah tersebut. Banyak sekali orang yang lahir dan juga meninggal di Destitute Asylum ini. Di tempat ini pula pernah berdiri sekolah pertama untuk anak-anak Aborigin (Indigenous Australian).

Selain bangunan museumnya yang keren karena bergaya kolonial dan sudah eksis dari jaman dulu, Migration Museum juga punya tata pamer dan program edukasi yang keren abis! Ruang pameran yang kecil tidak membuat display nya menjadi sumpek. Malah sebaliknya, karena ‘cerita’ yang ditampilkan oleh museum adalah cerita sejarah sosial dari kisah-kisah pribadi (bukan official history versi pemerintah seperti museum sejarah pada umumnya) maka museum di desain dengan pendekatan interaktif dan partisipatori. Misalnya, panil-panil displaynya dapat dibuka tutup, lantainya dapat diputar-putar untuk melihat display yang berbeda, dan kita sebagai pengunjung bisa main game untuk tahu apakah kita (berdasarkan etnis) diizinkan bermigrasi ke Australia atau tidak di tahun 1900an.

Migration Museum juga punya The Forum Community Access Gallery, yakni ruangan yang didedikasikan untuk pameran temporer mengenai komunitas etnis tertentu yang didesain sendiri oleh sang pemilik kebudayaan. Kalau mau mendaftarkan komunitas kita untuk pameran di The Forum Community Access Gallery antrinya bisa sampai 2 tahun lho!

Namun, hal yang menurut saya paling keren dari Migration Museum adalah program edukasinya, terutama program bagi pengunjung anak sekolah. Bagi anak sekolah, terutama anak SD dan SMP, Migration Museum punya banyak pilihan program edukasi. Ada program-program tetap ada pula program-program spesial yang berganti-ganti sesuai dengan pameran temporer yang sedang berlangsung di museum. Berhubung waktu itu saya kebagian magang selama 2 minggu di Migration Museum dan ditempatkan dibawah Departemen Edukasi, maka saya akan bercerita mengenai 3 program edukasinya yang pernah saya ikuti sebagai staf yang membantu museum educator.

Pengunjung bermain rolling hoops dalam program edukasi "19th Century Children"

Program pertama bertajuk "19th Century Children". Program ini adalah program edukasi tetap Migration Museum (hingga tulisan ini dibuat program ini masih ditawarkan di website museum). Melalui program ini anak-anak sekolah yang datang ke museum (tentunya sekolahnya sudah booking terlebih dahulu kalau mau mengikuti program ini sebelumnya) bisa merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai anak-anak di abad 19. Anak-anak akan memakai kostum ala anak-anak jaman dulu dan dipilihkan nama pengganti sementara seperti nama anak-anak yang pernah lahir di Lying in Hospital (bagian dari Destitute Asylum) antara tahun 1880-1908. Namanya bocah, ada aja lho yang tiba-tiba menangis setelah dipilihkan nama baru karena menurutnya namanya gak keren! Hahaha… Lalu mereka juga bermain berbagai permainan abad 19 seperti knucklebones, hopscotch dan rolling hoops. Knucklebones dan hopscotch itu ternyata semacam permainan bekel dan engklek! Saya sih geli sendiri, jaman saya kecil di Jakarta masih main seperti itu, ternyata itu permainan abad 19!

Program edukasi lainnya berjudul "Unpacking Histories", diperuntukan bagi siswa sekolah dasar yang lebih besar hingga sekitar usia SMP. Di program ini siswa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok harus mengeksplorasi benda-benda dan dokumen di dalam satu koper/tas/kardus milik seorang settler/imigran/refugee ke South Australia dari tahun 1830an hingga kini. Mereka harus mencari tahu mengenai nama si pemilik koper/tas/kardus tersebut, dari mana asalnya, apa pekerjaan mereka di negara asal, kapan mereka pindah ke Australia dan apa pekerjaan mereka di Australia. Mereka juga harus mengecek timeline di museum untuk mencari peristiwa sejarah yang terjadi di sekitar tahun migrasi tersebut dilakukan. Setelah itu, setiap kelompok harus membuat interpretasi sendiri mengenai ‘objek penelitian’ masing-masing.

Setelah semuanya presentasi, siswa akan menonton film pendek mengenai cerita sebenarnya tentang si pemilik koper/tas/kardus tersebut dan membandingkan apakah interpretasi dan ‘hasil penelitian’ mereka benar atau salah. Namun, dari film pendek tersebut siswa juga akan mengerti sejarah kependudukan di South Australia, mulai dari free settler yang memang sengaja dicari untuk menempati daerah baru, hingga imigran dan kemudian refugee.

Walaupun demikian, salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya adalah ketika harus mendampingi tim museum educator Migration Museum dalam program "Celebration" dalam rangka pameran temporer bertajuk "Yesterday Today and Tomorrow". Program ini dirancang karena ada pameran "Yesterday Today and Tomorrow" yang dilakukan oleh Filipino Australia Heritage Society of South Australia Inc. mengenai kebudayaan Filipina di The Forum Community Access Gallery. Berhubung acaranya di bulan Desember maka di program edukasi ini siswa mengeksplorasi mengenai tradisi natal di Filipina yang bersumber dari budaya Spanyol. Mereka lalu akan membedakan dengan tradisi natal di negara-negara seperi Cyprus yang banyak terkena pengaruh Yunani (Pameran "Cyprus Community of South Australia: 60 Years" dilaksanakan di The Forum Community Access Gallery sebelum pameran oleh komunitas Filipina).

Program edukasi ini bertempat di ruangan khusus edukasi yang sudah didesain dengan perapian, kue-kue, pudding natal dan hadiah-hadiah natal. Siswa akan mendengarkan cerita dan berdiskusi (dengan museum educator) mengenai perbedaan perayaan natal ala Spanyol dan natal ala Yunani. Setelah itu mereka akan membuat parol. Parol adalah hiasan natal berbentuk bintang khas Filipina.

Apabila pesertanya anak-anak beragama Nasrani dan fasih berbahasa Inggris maka acara ‘storytelling dan diskusi’ ini tidak akan menjadi masalah. Celakanya, di salah satu hari, pesertanya adalah siswa kelas 1 SD yang sebagian besar baru tiba di Australia dan belum bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Mereka bahkan tidak pernah merayakan natal di negara asalnya dan tidak tahu apa itu Christmas karena mayoritas dari mereka berasal dari negara-negara Islam di Asia seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam! Akhirnya saya menjadi ‘penerjemah’ dadakan dan membantu sang museum educator menjalankan program dengan separuh Bahasa Indonesia. Hari itu, jangankan membahas perbedaan perayaan natal ala Spanyol dan Yunani, sukses membahas perayaan natal secara umum saja sudah bagus! Hehe…

Di akhir hari saya dipeluk-peluk oleh sang museum educator yang berterima kasih karena menurutnya saya ‘saves the day’. Kami kemudian baru benar-benar menyadari bahwa ketika museum berusaha ‘menarik’ audiens yang lebih multikultur untuk datang ke museum, memang penting sekali apabila museum memiliki staf yang juga berlatar belakang multietnis. Hal ini memang sudah menjadi salah satu isyu penting di museum-museum di negara-negara Eropa, Australia dan Amerika/Kanda.

Terakhir, satu hal yang patut diacungi jempol dari program-program edukasi Migration Museum ini adalah selalu menyiratkan pesan. Jadi, setiap anak sekolah yang ikut program edukasi apapun di Migration Museum baik di program "19th Century Children", "Unpacking Histories" ataupun "Celebration" nya "Yesterday Today and Tomorrow", pulang-pulang mereka akan ‘tercuci otaknya’ akan satu pesan penting: WE ARE DIFFERENT BUT WE ARE ONE, WE ARE AUSTRALIAN! Keren kan, menyampaikan pesan multikulturalisme dan toleransi ke anak-anak lewat kunjungan ke museum! Bisa lho kalau mau dicontoh sama museum-museum di Indonesia.

1 http://migration.history.sa.gov.au/events/2011/place-history-migration-museum-site diakses 5 Agustus 2016

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page