Exhibition Review "17|71: Goresan Juang Kemerdekaan" Galeri Nasional, Jakarta
- Ajeng Arainikasih

- 23 Agu 2016
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Akhir pekan kemarin saya dan suami membawa anak-anak kami (5 tahun dan 10 bulan) ke Galeri Nasional, Jakarta. Kami ingin mengajak mereka ke pameran temporer yang sedang diselenggarakan disana yang bertajuk “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan”. Pameran ini diprakarsai oleh Museum Istana Kepresidenan dalam rangka memperingati HUT RI ke-71. Koleksi-koleksi yang dipamerkan adalah lukisan-lukisan masterpiece koleksi Museum Istana Kepresidenan yang bertema perjuangan. Biasanya lukisan-lukisan tersebut menghiasi dinding Istana Negara Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Kepresidenan Yogyakarta ataupun Istana Tampaksiring Bali dan sangat jarang dilihat oleh publik. Oleh sebab itu saya dan suami semangat membawa anak-anak ke pameran untuk memperkenalkan mereka pada seni dan menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini.
Pameran digelar di Gedung A Galeri Nasional yang juga merupakan gedung utama. Mengingat nilai koleksi yang dipamerkan sangat tinggi maka pengamanan yang dilakukan juga sangat ketat. Saat memasuki lobi galeri kami diperiksa satu persatu (bahkan anak-anak juga diperiksa) untuk memastikan kami tidak membawa benda-benda yang berpotensi membahayakan koleksi. Kami pun tidak diperbolehkan membawa tas, makanan dan minuman ke dalam ruang pamer. Untung kami sudah sigap, hanya dompet dan HP saja yang kami bawa serta, barang-barang lainnya kami tinggal di mobil. Namun jangan kawatir, bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri panitia menyediakan tempat penitipan barang kok!

Lukisan 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' (1857) oleh Raden Saleh
Pameran 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan menempati 4 ruangan. Saat pertama memasuki ruang pamer utama, pengunjung akan disuguhi lukisan potret pahlawan-pahlawan Nasional Indonesia seperti dua lukisan 'Pangeran Diponegoro' karya kakak beradik Sudjono Abdullah dan Basoeki Abdullah, serta 'Potret H.O.S. Cokroaminoto" karya Affandi. Di ruang utama ini pula dipamerkan lukisan 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' karya Raden Saleh yang legendaris. Ada pula lukisan 'Rini' karya presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno. Dikisahkan bahwa saat Dullah menjadi pelukis istana beliau pergi ke Bali dan membuat sketsa untuk cikal bakal lukisan Rini tersebut. Dullah kemudian pergi ke Jakarta untuk beberapa hari. Sekembalinya Dullah ke Bali ternyata sketsa tersebut telah selesai dijadikan lukisan oleh Sukarno!

Our wifie bersama lukisan 'Rini' karya Presiden Sukarno. Fotonya gak boleh pakai blitz ya!
Ruangan ke-2 yang berada di sebelah kanan ruang utama banyak berisi lukisan karya pelukis asing mengenai Indonesia, antara lain karya Rudolf Bonnet, Walter Spies dan Miguel Covarrubias. Saya sendiri tertarik dengan karya Walter Spies yang berjudul 'Kehidupan di Borobudur abad ke-9' karena ternyata karya tersebut (kemungkinan) dibuat saat yang bersangkutan bertugas menjadi mitra arkeolog W.F. Stutterheim untuk mendokumentasikan Borobudur di tahun 1930an. Lukisan 'Empat Gadis Bali dengan Sajen' karya Miguel Covarrubias juga menarik perhatian saya. Miguel Covarrubias adalah antropolog Meksiko yang tinggal di Bali antara tahun 1933-1936. Ia lalu mendokumentasikan mengenai Bali melalui lukisan-lukisan dan buku yang berjudul 'The Island of Bali". Lukisan 'Empat Gadis Bali' ini mejadi sampul buku tersebut yang berperan besar dalam mempromosikan Bali kepada orang asing di era 1930-an. Kedua lukisan ini dibeli Sukarno sekitar tahun 1950-an.

Lukisan Miguel Covarrubias 'Empat Gadis Bali dengan Sajen' (1933-1936)
Salah satu lukisan lain yang menurut saya unik adalah karya Lee Man Fong yang bertajuk 'Margasatwa dan Puspita Nusantara'. Lukisan yang biasa dipajang di Istana Cipanas ini sebenarnya adalah 'desain mural'. Tahun 1960 Lee Man Fong menjadi pelukis istana menggantikan Dullah. Kemudian di tahun 1961 Presiden Sukarno meminta Lee Man Fong (dan beberapa pelukis lain) untuk membuat mural sebagai 'elemen estetik' Hotel Indonesia sehingga diciptakanlah lukisan ini.

Lukisan untuk desain mural Hotel Indonesia karya Lee Man Fong
'Margasatwa dan Puspita Indonesia' (1961)
Ruangan ke-3 berisi foto-foto dan slide foto berbagai peristiwa yang sudah terjadi selama 71 tahun Indonesia merdeka. Merupakan tempat berkontemplasi bagi pengunjung untuk merenungkan apa yang sudah dilakukan untuk negara tercinta ini. Adapun ruangan ke-4 berisi timeline yang menceritakan mengenai koleksi seni Istana.

Ruang foto dan slide foto 71 tahun Indonesia merdeka
Secara garis besar pameran '17|71: Goresan Juang Kemerdekaan' 'sekelas' dengan blockbuster exhibition 'Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia' (2012) serta 'Aku Diponegoro' (2015) yang diprakarsai oleh Goethe Institut dan juga diselenggarakan di Galeri Nasional. Keren dan membanggakan nih Museum Istana Kepresidenan!
Hanya satu yang disayangkan, anak saya yang bayi (10 bulan) tidak diperbolehkan masuk ke pameran 17|71 ini. Saya dan suami jadi harus menikmati pameran secara bergantian. Dengan alasan keamanan koleksi, balita dibawah usia 5 tahun tidak diperkenankan masuk ke ruang pameran. Sayang sekali, padahal kami ingin mengenalkan ia kepada pameran seni sejak dini. Di luar negeri bayi dan balita biasanya bahkan dibuatkan acara khusus di pameran / museum seni. Disini anak saya harus cukup puas dengan berfoto di lobi pameran bersama lukisan 'digital printing' karya S. Sudjojono 'Kawan-Kawan Revolusi' (1947).
Anyway, bagi yang belum sempat datang, pameran ini worth it kok untuk dikunjungi. Pameran digelar sampai 30 Agustus 2016 ini. Bahkan tanggal 28 Agustus ada acara diskusi dengan sejarawan Peter Carey mengenai penangkapan Pangeran Diponegoro. Yuk marii..

Our wifie di lobi Galeri Nasional bersama digital printing lukisan S. Sudjojono 'Kawan-Kawan revolusi' (1947)




Komentar