top of page

Samstag Museum of Art, Adelaide: Wonderful World

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 8 Agu 2016
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 23 Sep 2021



Suatu sore di bulan Oktober 2007 saya dan X, salah seorang sahabat saya sewaktu saya kuliah di Adelaide dulu, menghabiskan waktu dengan mengunjungi Anne & Gordon Samstag Museum of Art (kini museumnya bernama Samstag Museum of Art). Saat itu museumnya baru dibuka dan bertempat di University of South Australia, Adelaide. UniSA, begitu panggilan akrab kampus tersebut, adalah kampus tetangga yang berada tidak jauh dari kampus kami dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik free city bus


Hawke Building UniSA, tempat Samstag Museum of Art berada. Foto: Wikipedia

Kala itu kami datang ke pameran temporer berjudul "Wonderful World" yang dihelat sebagai pameran pembuka di Samstag Museum of Art yang baru saja eksis. Pameran "Wonderful World" ini memamerkan karya 12 seniman yang di display di dua lantai.


Lantai 1 berisi instalasi, foto dan lukisan. Foto-foto berukuran besar yang dipajang menggambarkan kesibukan orang-orang di kota, dunia manusia modern sehari-hari, dunia kita. Sedangkan lukisannya adalah lukisan dot painting karya seniman Indigenous Australia. 

Indigenous Australians mengenal konsep ‘dreaming’ sebagai narasi mengenai terbentuknya dunia mereka. Cerita dreaming ini berbeda-beda bagi setiap orang. Mereka biasa melukiskan dreaming tersebut dalam bentuk lukisan dot painting yang terkadang menggambarkan landscape aerial gurun, semacam peta udara, yang berhubungan dengan cerita dreaming masing-masing pembuatnya. 

Jadi, di lantai 1 pameran "Wonderful World" ini diperlihatkan dunia dari versi seniman Indigenous Australia, dan dunia dari versi seniman Australia kulit putih. Keduanya sama-sama indah.

Kami pun kemudian melanjutkan ke lantai 2. Disana kami berhadapan dengan semacam instalasi yang memperlihatkan suasana alam dan hewan-hewan di hutan. Kalau saya tidak salah ingat, ada suara hewan-hewan tersebut yang dapat kami dengar melalui headphone

Lalu kami masuk ke ruang selanjutnya. Ruang ini berbentuk persegi dengan 1 sofa di tengah ruangan dan foto-foto yang terus berganti di keempat sisi ruangan. Kami membutuhkan beberapa waktu untuk dapat memahami maksud dari ruangan ini. 

Ternyata, apabila kami duduk di sofa tersebut, kami lantas akan melihat foto pemandangan dari 4 sisi yang berbeda. Maksudnya, 1 objek pemandangan diambil fotonya dari 4 sisi, dan semuanya ditampilkan di keempat sisi ruangan ini secara bergantian. 

Foto-foto ini mencakup semua pemandangan di dunia, dari pemandangan kota, desa, pantai, gunung, padang rumput, gurun, bangunan-bangunan terkenal di dunia, pokoknya semua deh! Menggambarkan panorama di bumi seutuhnya. 

Di ruangan ini juga terus mengalun lagu “What a Wonderful World” nya Louis Armstrong. Intinya sih memperlihatkan keindahan dunia ini. Pesan filosofisnya, kita harus melihat segala sesuatu dari berbagai sisi, jangan dari 1 sisi saja.

Setelah selesai dari ruangan ini, kami kemudian memasuki ruangan terakhir. Ruangan terakhir berisi semacam slide foto/film pendek dokumenter tentang perusakan alam: perang, penebangan hutan, perburuan liar, yang akhirnya berakibat pada bencana lain seperti tanah longsor dan banjir. 

Perasaan yang begitu menyenangkan setelah melihat indahnya dunia dari ruangan sebelumnya lantas berubah menjadi perasaan tidak enak begitu keluar dari ruangan terakhir yang sengaja dibuat suram dan gelap ini. 

Intinya, melalui pameran seni ini, kurator pameran ingin menyampaikan pesan bahwa dunia ini indah, jadi janganlah dirusak! Tindakan kita merusak bumi akan mengakibatkan kehancuran!

Keluar dari pameran, saya dan X sama-sama terperangah. Saya belum pernah datang ke pameran seni yang begitu sarat pesan. Selain itu, pameran ini juga menampilkan dunia dari berbagai sisi dan versi, alias multi-perspectives! 

Pameran di museum memang idealnya dapat menyampaikan pesan tertentu. Objek tidak lagi hanya dijejerkan dan dipamerkan berdasarkan tipologinya tanpa ada narasi atau pesan yang ingin disampaikan kepada pengunjung. 

Selain untuk menambah pengetahuan pengunjung, pameran di museum juga biasanya dirancang untuk memperkaya mindset pengunjungnya akan suatu isyu tertentu, ataupun menambah level ketertarikan terhadap suatu hal. 


Saat itu, sebagai newbie di dunia penikmat seni, melalui pameran "Wonderful World" ini saya belajar banyak hal. Terutama, pameran seni ternyata dapat digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu, bukan hanya sebagai ekspresi artistik saja!


Pameran Wonderful World di Samstag Museum of Art Adelaide

Cover Photo: Bilby at Wikimedia Commons. This picture is licensed under the Creative Commons Attribution-Share-Alike 3.0 Unported license.


Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page