top of page

The Hahndorf Academy Museum, Hahndorf: Perkembangan paradigma museum

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 1 Agu 2016
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Kala itu tahun 2008 dan saya sedang mengambil mata kuliah Curatorial and Museum Studies B di The University of Adelaide, Australia. Mata kuliah itu mengharuskan saya membuat tugas akhir berupa proposal pameran dan katalog pameran. 

Proposal pameran yang saya buat berjudul ‘The Dress Shop: Colonial Chic’. Oleh sebab itu, saya harus ‘berburu’ ke museum-museum untuk mencari artefak (colonial dress) yang cocok untuk dipamerkan di pameran saya. 

Tugas tersebut membawa saya (dengan ditemani oleh 3 sahabat sekaligus housemate saya - yang mejeng di foto) ke Hahndorf Academy Museum di Hahndorf, kota kecil di dekat Adelaide. 

Mengapa harus repot-repot ke Hahndorf? Karena German Migration Museum (bagian dari Hahndorf Academy Museum) memiliki koleksi baju pengantin wanita Jerman Lutheran berwarna hitam dari abad 19 yang saya butuhkan untuk area ‘wedding dress’ pameran saya.

Hahndorf terletak sekitar 28 km di sebelah tenggara Adelaide. Tahun 1839 sejumlah 38 keluarga Jerman Lutheran bermigrasi untuk pertama kalinya ke Australia untuk mencari kebebasan beragama (dari tekanan Raja Prussia di Eropa) dan kehidupan lebih baik di daerah koloni baru. Mereka kemudian menetap di daerah Adelaide Hills. 

Desa ‘Jerman’ kecil tersebut kemudian dinamakan dengan Hahndorf (yang berarti Desa Hahn) atas nama kapten Hahn, nahkoda yang membawa mereka ke Australia.

The Hahndorf Academy Museum sendiri awalnya adalah sekolah yang dibangun tahun 1857. Bangunan tersebut kemudian beralih fungsi menjadi rumah sakit, markas militer lokal saat Perang Dunia II, hingga kediaman pribadi. Tahun 1967 bangunan tersebut dibuka sebagai ‘The Hahndorf Academy Galleries and German Folk Museum’. 

Kini Hahndorf Academy adalah salah satu destinasi kultural utama di Hahndorf yang terdiri atas galeri seni, German Migration Museum dan toko.

Kembali ke black wedding dress koleksi museum, orang Jeman Lutheran yang dulu bermigrasi ke Hahndorf memiliki budaya menikah dengan gaun pengantin berwarna hitam. Kalau saya tidak salah ingat, mereka menganggap bahwa memasuki dunia pernikahan berarti memasuki kehidupan yang berat, maka mereka menikah dengan baju hitam. 

Koleksi ini ditampilkan di lemari kaca sederhana dengan label yang juga sederhana. Koleksi-koleksi museum lainnya yang berupa benda-benda peninggalan keluarga-keluarga imigran Jerman pertama yang datang ke Hahndorf ala abad 19 seperti tempat tidur bayi, mesin jahit, setrika arang dan papan kayu untuk mencuci baju juga di pamerkan dengan sederhana dengan penjelasan yang minim. 

Begitu pula cara museum (galeri) menampilkan koleksi berupa lukisan-lukisan karya Hans Heysen, seorang pelukis di era kolonial Australia yang sangat terkenal yang tinggal di daerah Adelaide Hills.

19th Century black wedding dress koleksi German Migration Museum

Black wedding dress koleksi German Migration Museum nya Hahndorf Academy Museum

Agak berbeda dengan museum-museum di Australia yang biasanya memiliki tata pamer yang interaktif bahkan partisipatori, saat itu Hahndorf Academy Museum masih menampilkan koleksinya dengan pasif. Koleksi ditata dengan sederhana disertai dengan keterangan label koleksi yang dicetak diatas kertas. 

Perlu diketahui bahwa tulisan ini dibuat tahun 2016 atas memori terhadap Hahndorf Academy Museum di tahun 2008. Kini, kalau lihat di website-nya, tampaknya desain interior museum sudah jauh lebih keren! 

Kembali ke Hahndorf Academy Museum di tahun 2008, berdasarkan ilmu museologi, museum yang memiliki tata pamer seperti ini biasanya masih dikelola dengan paradigma tradisional. 

Di dunia permuseuman dikenal 3 paradigma perkembangan museum: tradisional, modern dan postmodern.

Museum tradisional adalah museum yang masih berorientasi terhadap koleksi. Koleksi dianggap segala-galanya, “sakral” karena merupakan benda asli, dan harus di preservasi sedemikian rupa. 

Hal itu menyebabkan museum tradisional biasanya tidak memperbolehkan pengunjung untuk menyentuh koleksi. Selain itu, koleksi biasanya dipamerkan secara pasif tanpa disertai keterangan yang cukup (atau justru dengan narasi yang terlalu panjang). Dianggapnya dengan melihat si koleksi pengunjung sudah bisa mengerti atau minimal mengagumi. 

Informasi mengenai koleksi museum diberikan satu arah dari pengelola museum ke pengunjung. Museum yang dikelola secara tradisional juga kurang peduli dan kurang mengerti kebutuhan pengunjungnya, maka fasilitasnya pun minim. 

Biasanya yang di fokuskan hanya urusan manajemen koleksi seperti dokumentasi, inventarisasi dan konservasi koleksi. 

Menurut Zahava Doering, editor jurnal museum terkemuka Curator, museum tradisional juga biasanya menganggap pengunjungnya stranger alias orang asing yang sudah diberikan hak istimewa karena sudah diperbolehkan melihat koleksi museum.  

Tahun 1960-1970an di dunia barat mulai berkembang aliran museum modern atau yang dikenal dengan istilah new museology. Museum yang seperti ini lebih people oriented

Mereka berorientasi pada kebutuhan pasar, maka dibuatlah fasilitas yang oke di museum yang tidak kalah dengan saingannya museum: shopping malls dan amusement park

Selain preservasi, museum juga berorientasi pada kebutuhan pendidikan masyarakat. Jadi di buat juga pameran-pameran yang menarik dan besar-besaran atau yang dikenal dengan blockbuster exhibition

Museum menawarkan pula program-program edukasi atau program publik yang keren-keren dan sesuai kebutuhan berbagai usia pengunjung. Ada program untuk anak sekolah, program untuk dewasa, remaja, keluarga, masyarakat difabel, bahkan acara-acara khusus untuk bayi dan balita! 

Ruangan-ruangan di museum juga bisa di sewa untuk acara-acara seperti company gathering dan wedding party. Museum biasanya bahkan menawarkan program membership dengan keuntungan-keuntungan khusus yang bisa didapatkan oleh anggotanya. 

Meminjam lagi istilah Zahava Doering, museum modern biasanya menganggap pengunjungnya sebagai guest atau tamu, jadi harus dilayani sebaik mungkin.

Kini, banyak museum terutama di luar negeri yang telah mengusung konsep museum modern. Tetapi, dengan berkembangnya zaman, museum modern tidak lagi bisa ‘outstanding’ karena hampir semua museum seperti itu. Konsep museum postmodern jadi mulai populer. 

Aliran museum postmodern atau postmuseum mengajak pengunjung dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam tata pamer dan program-program museum. 

Pengunjung adalah ‘aktor’ di museum, bukan lagi hanya ‘penonton’. Cerita, pendapat dan expertise masing-masing pengunjung sekarang di dengar di museum postmodern. Museum mulai mengusung konsep accessible curatorship dan participatory yang sesuai dengan perkembangan zaman, terutama setelah era web 2.0 dimana semua orang bisa create, connect and share. 

Museum postmodern juga berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan, dengan kata lain, memiliki tanggung jawab sosial, yakni membantu memecahkan berbagai permasalahan di masyarakat melalui koleksi museumnya. Misalnya dengan membantu penderita Dementia mengingat memorinya, membantu refugee untuk dapat lebih mingle di negara baru, atau membantu anak jalanan, veteran perang, bahkan penderita narkoba untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. 

Zahava Doering mendeskripsikan pengunjung museum postmodern ini seperti client atau bahkan user. Jadi museum harus bisa diakses 24/7 dari manapun, kapanpun! 

Apabila disandingkan dengan konsep pemasaran ala Hermawan Kartajaya, museum postmodern setara dengan konsep marketing 3.0.

Sekali lagi mejeng di Hahndorf Academy Museum, sayang fotonya gak kasih lihat bangunannya secara full

Mejeng sekali lagi di Hahndorf Academy Museum, sayangnya fotonya gak nampilin satu gedung keseluruhan

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page