top of page

Art Gallery of South Australia, Adelaide: Dapur tersembunyi dan jalan rahasia!

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 29 Jul 2016
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 22 Sep 2021


Satu dekade lalu (tahun 2007-2008) saya berkesempatan mengenyam pendidikan magister Art History Curatorial and Museum Studies di the University of Adelaide, Australia.

Untuk program master by coursework ini kampus saya bekerjasama dengan Art Gallery of South Australia (AGSA) yang terletak tepat di sebelah kampus di jalan North Terrace, jalan utama kota Adelaide.

Art Gallery of South Australia adalah state gallery (museum seni) untuk wilayah negara bagian South Australia. Museum seni yang memiliki lebih dari 35.000 koleksi ini dibangun dan dibuka untuk publik sejak tahun 1881.

Koleksinya mencakup karya seni rupa dari seniman etnis Aboriginal and Torres Strait Islanders dan seniman Australia kulit putih sejak masa kolonial hingga kini. AGSA juga memiliki koleksi lukisan/gambar, patung, keramik, furnitur dan tekstil dari Eropa dan Asia, juga koleksi fotografi.

Kembali ke urusan kuliah, karena adanya kerjasama antara kampus saya dan AGSA maka selama 1,5 tahun terkadang saya kuliah di kampus dan terkadang kuliah praktek langsung di AGSA.

Dari seringnya kuliah praktek di AGSA saya jadi sedikit banyak tahu mengenai jalan rahasia dan dapur-dapur tersembunyi di museum seni ini!

Kuliah saya di AGSA biasanya dimulai pukul 17.15. Hal ini disebabkan karena AGSA tutup jam 5 sore. Setelah AGSA tutup tim sekuriti mereka kemudian melakukan ā€˜sweeping’ di museum untuk memastikan bahwa tidak ada pengunjung lagi yang tersisa di dalam museum (atau bersembunyi dengan niat buruk) sebelum memperbolehkan kami masuk.

Saat kami masuk pun jumlah kami (termasuk dosen saya dari kampus) dihitung oleh tim sekuriti! Kami biasanya masuk dari pintu samping museum, dan setelah selesai kuliah kami keluar dari pintu khusus sekuriti di bagian lain museum.

Saya menyadari adanya ā€˜perhitungan ketat’ ini di semester pertama ketika suatu saat setelah kuliah usai saya memutuskan untuk ke toilet dulu sebelum pulang. Saat sedang di dalam toilet lampu museum di matikan. Saya jadi membutuhkan waktu agak lebih lama untuk bisa keluar dari toilet karena harus meraba-raba di kegelapan. Di pintu keluar sang sekuriti pun berkata ā€œAah here you are! Where have you been? I’m worried that I missed one personā€.

Selain itu, di ruangan mana pun perkuliahan kami dilaksanakan, selain dosen kampus dan kurator museum yang biasanya bertugas jadi dosen tamu hari itu, kami pasti didampingi oleh sekuriti museum.

Sistem pendampingan ini sebenarnya oke-oke saja dan tidak mengganggu. Hanya saja saya jadi tidak enak hati apabila jadwal kuliah di galeri kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ini berarti saya harus buka puasa di saat jam kuliah! And it means that I need one more extra security guard to accompany me to the member’s room.

Member’s room adalah ruangan khusus untuk member AGSA. Tempatnya di sisi taman luar museum. Di ruangan member ini ada dapur kecil lengkap dengan kulkas, tempat cuci piring, alat makan dan minum, kue-kue kecil, kopi-teh-susu, sofa, dan rak berisi buku-buku katalog museum.

Sebagai mahasiswa S2 kami diperbolehkan menggunakan member's room ini untuk beristirahat di sela-sela jam perkuliahan kami di galeri. Tentu saja piring dan gelas yang kami pakai untuk makan kue dan minum kopi atau teh harus kami cuci sendiri. Bukan apa-apa, di Australia tidak ada konsep office boy seperti di Indonesia, urusan bersih-bersih ya dikerjakan sendiri!

Pengawalan buka puasa ini lebih ribet lagi kalau taman museum sedang disewa untuk private party atau member’s party. Berarti saya tidak bisa buka puasa di member’s room. Untungnya AGSA punya banyak sekali dapur. Jadi saya bisa ā€˜digiring’ sekuriti untuk buka puasa di dapur lain.

Mengapa AGSA punya banyak dapur? AGSA kan museum seni? Yup! AGSA adalah museum seni yang modern.

Museum modern biasanya sering di sewa fasilitasnya (baik taman, cafĆ©, atau bahkan galeri pamernya) untuk private party (biasanya dari perusahaan). Bahkan museum terkadang menyelenggarakan pesta untuk anggotanya, misalnya member’s (temporary) exhibition opening party.

Ini sebabnya mengapa orang mau menjadi member museum. Selain bisa dapat diskon untuk masuk ke pameran temporer atau saat membeli produk museum, member juga dapat privilege untuk bisa mengikuti program publik museum dan melihat pameran temporer lebih dahulu karena selalu diundang ke pesta pembukaan pameran.

Jadi, museum memiliki banyak dapur untuk menunjang urusan pesta tersebut. Dapur-dapur ini tersembunyi dan dihubungkan ke ruang-ruang pamer melalui jalan-jalan rahasia.

Jalan rahasia juga menghubungkan kantor dan galeri, juga loading dock. Suatu hari saya dan seorang teman sedang membuat tugas exhibition review di ruang pamer temporer museum. Ruangannya terletak di bawah tanah. Tiba-tiba ada beberapa staf museum mendorong benda yang sangat besar ke tembok.

Saat itu kami bingung, ā€˜apa yang mereka lakukan? Mereka akan menabrak tembok!’. Kami berfikir demikian karena kami merasa sudah berada di ruangan paling dalam dan paling ujung museum. Namun ternyata tembok tersebut tiba-tiba terbuka dan staf beserta benda raksasa yang mereka dorong masuk ke ruangan loading dock bawah tanah, wow!

Sejak saat itu saya tidak kaget lagi dengan jalan dan pintu-pintu rahasia di AGSA. Walaupun demikian, saya tetap senang sekali ketika suatu saat diajak dosen saya yang notabene merupakan kurator museum untuk ā€˜muncul dari balik permadani’ di Galeri Asian Art sehabis menuruni tangga dari dekat ruang kantornya! My coolest AGSA experience ever!



Catatan:

Tulisan ini diterbitkan di #MuseumTravelogue Australia (2018) oleh Penerbit Stiletto Indie Book (Yogyakarta), hlm. 10-14.




Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page