Edo-Tokyo Museum, Tokyo: Where everything begin!
- Ajeng Arainikasih

- 27 Jul 2016
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Papa saya mengenyam pendidikan PhD nya di Niigata, Jepang. Di tahun 2005, tahun terakhir sebelum papa back for good dari Jepang ke Indonesia, saya, adik-adik saya, mama, eyang, tante dan salah seorang sepupu saya berkesempatan mengunjungi Papa di Niigata.
Pada kunjungan itu kami juga jalan-jalan ke Tokyo dan mampir ke Edo-Tokyo Museum. Edo-Tokyo Museum adalah museum sejarah yang menceritakan mengenai kota Tokyo di zaman Edo.
Dari kecil saya memang paling senang kalau diajak ke museum, terutama museum sejarah. Tapi, for the first time in my life, saya benar-benar jatuh cinta dan terpesona dengan museum di Tokyo ini!
Saat tiba di pelataran Edo-Tokyo Museum ternyata saya sudah berada di lantai 3. Sebagai pengunjung museum saya kemudian harus menaiki eskalator di dalam tabung berwarna merah untuk menuju ke lantai 6, ke ruang pameran tetap.
Iām so excited! Baru pertama kali saya masuk museum dari lantai 6! Biasanya kan di Indonesia masuk museum ya dari lantai 1.
Sesampainya di lantai 6, pengunjung museum lantas disambut oleh jembatan kayu yang sangat besar. Kalau tidak salah ingat, jembatan itu adalah jembatan asli dari zaman Edo. Pengunjung harus menyebrangi jembatan untuk mengikuti alur pamerannya.
Saat menyeberangi jembatan, saya dapat melihat ruang pamer lantai 5 di bawah saya! Ternyata di beberapa tempat di museum, lantai 6 dan lantai 5 dibuat menyambung.
Sebelum menyeberangi jembatan saya juga sempat melihat meja informasi dan tempat untuk meminjam baby stroller dan kursi roda. Saya takjub untuk kedua kalinya! Belum pernah saya lihat sebelumnya ada museum di Indonesia yang menyediakan fasilitas meminjamkan kereta dorong bayi dan kursi roda (gratis) ke pengunjung!
Setelah menyeberangi jembatan kayu nan megah tersebut saya lantas menjumpai semacam maket berukuran besar. Isi maket tersebut adalah maket kota Edo. Bangunan dan orang-orang di dalamnya dibuat dalam ukuran sangat kecil.
Menariknya, di setiap sisi maket disediakan beberapa teropong. Jadi pengunjung bisa melihat lebih jelas dan lebih detail isi maket dari berbagai sisi menggunakan teropong! Keren!
Alur pameran pun membawa pengunjung menuruni lantai 6 dengan jalur landai menuju ke lantai 5. Di lantai 5 pameran terbagi atas 2 zona: zona Edo dan zona Tokyo. Tata pamernya pun dikemas sangat menarik.
Rumah-rumah penduduk di zaman Edo dan Tokyo dibuat secara nyata dan boleh dimasuki oleh pengunjung. Pengunjung diperbolehkan untuk memegang artefak (tentunya replika) dan dapat melakukan berbagai hal.
Misalnya, mengangkat ember kayu menggunakan pikulan dan merasakan beratnya memikul ember kayu tersebut. Pengunjung juga dapat menaiki tandu usungan dan sepeda jaman dulu.
Selain bangunan 3D ada pula facade bangunan seperti facade kuil, teater Kabuki dan gedung perusahaan penerbitan surat kabar terkemuka di Tokyo di masa lampau. Ada juga display di lantai yang ditutupi dengan kaca (dulu di Indonesia belum ada museum yang memiliki tata pamer seperti ini).
Bahkan banyak display yang ditampilkan dengan teknologi hologram (saat itu tahun 2005 dan perkembangan teknologi digital belum secanggih sekarang)!
Selesai menjelajahi museum ada museum shop yang menjual berbagai cinderamata keren. Lapar atau haus? Ada beberapa pilihan restoran dan cafƩ. Pengunjung yang menggunakan kursi roda tidak perlu kawatir, ada disabled toilet. Bahkan bagi pengunjung yang membawa bayi ada baby nursing room dan baby changing room! Ruangan tersebut juga bisa berfungsi sebagai ruang first aid.
Saya yang dari awalnya sudah suka dengan hal-hal berbau masa lalu seperti arkeologi, sejarah dan museum langsung tambah jatuh cinta dengan museum! Pengalaman berkunjung ke Edo-Tokyo Museum ini membuka wawasan saya bahwa tata pamer museum ternyata bisa banget dikemas dengan sangat menarik! Fasilitasnya juga bisa dibuat sekeren mungkin seperti di pusat perbelanjaan!
Saat itu (tahun 2005) saya masih menjadi mahasiswa S1 Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Kebetulan saya baru lulus mata kuliah Pengantar Museologi.
Mata kuliah itu baru diadakan perdana karena adanya kurikulum baru. Jadilah saya benar-benar āfresh from the ovenā. Sehabis belajar teorinya langsung lihat āprakteknyaā yang benar-benar keren.
Kunjungan ke Edo-Tokyo Museum membuat saya menyadari dan menemukan passion saya: museum!




Komentar