top of page

Museum-Museum Public di Geneva, Gratis sih, Tapi...

  • Terrylia Feisrami
  • 12 Feb 2017
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Di penghujung tahun 2016 lalu saya, Terrylia Feisrami, berkesempatan mengunjungi Geneva di Swiss yang sering disebut sebagai negara termahal di Eropa di samping Inggris. Walau harga barang-barang di Geneva mahal, museum-museum yang dikelola oleh pemerintah Kota Geneva bebas harga masuk. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mengunjungi sebanyak mungkin museum di kota asing tersebut. Sebenarnya Geneva punya beberapa museum swasta yang terkenal seperti Museum Arloji Patek Philippe dan International Red Cross and Red Crescent Museum, tetapi karena namanya jalan-jalan ala kantong mahasiswa, jadi di Geneva saya tidak mengunjungi museum privat sama sekali. Di Geneva saya mengunjungi 5 museum publik, yakni:


1. CERN - Microcosm dan The Universe of Particles

CERN sebenarnya merupakan badan Eropa untuk penelitian nuklir. Kompleks CERN sendiri sebenarnya tertutup untuk umum, hanya kalangan akademik dan profesional saja yang bisa mendapat akses untuk memasukinya, itu pun dengan sistem keamanan yang ketat. Namun CERN memiliki dua pameran permanen yang bernama Microcosm dan The Universe of Particles yang terbuka untuk umum. Pameran Microcosm terletak di gedung resepsionis utama CERN, sedangkan The Universe of Particles terletak di gedung seberangnya yang berarsitektur cukup ikonik, yaitu berbentuk menyerupai globe.

Microcosm bercerita mengenai asal mula dibentuknya CERN dan tujuan dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh CERN. Berbicara mengenai CERN, tentu tak bisa lepas dari eksperimen ikoniknya yang melibatkan alat bernama Large Hadron Collider (LHC). Di Microcosm ini lah perangkat penyusun LHC dijelaskan semuanya, beserta kehidupan para peneliti yang berperan di baliknya. Walau kesannya canggih, tata pamer Microcosm masih saya golongkan bersifat tradisional karena pengunjung hanya pasif membaca informasi di panil atau menyentuh layar touch screen untuk mendapatkan informasi.

Menurut situs CERN, The Universe of Particles menceritakan cara kerja partikel yang menyusun dunia yang kita tinggali ini beserta misi CERN untuk mempelajarinya. Buat saya sih, isinya hampir sama saja dengan Microcosm, hanya bentuk penyajiannya yang lebih menakjubkan dalam hal visual dan konstruksi suasana pamerannya. Ruang pameran yang remang dan lampu-lampu neon membuat saya berpikir saya sedang berada di luar angkasa (ok, ini ngawur). Lagi-lagi walau tampilan pamerannya berkesan futuristik, pengunjung hanya bisa menyentuh-nyentuh layar dan membaca panil informasi. Namun demikian, saya membaca bahwa di masa depan Microcosm akan menambahkan beberapa game di pamerannya. Semoga saja bisa meningkatkan kualitas museumnya juga.


2. Museum of the History of Science (MusƩe d'Histoire des Sciences)

Museum Sejarah Sains ini terletak di tengah-tengah taman pinggir danau nan indah bernama La Perle du Lac. Museumnya sendiri menempati bekas bangunan vila dari abad ke-19 bernama Villa Bartholoni. Sayangnya, saya lebih terkesima dengan keindahan bangunan vilanya sendiri ketimbang isi museumnya. Ukuran museumnya memang cukup kecil, hanya terdiri dari dua lantai dengan koleksi yang sebagian besar berkaitan dengan ilmu fisika, matematika, dan astronomi. Sifat pameran masih tradisional dengan panil informasi yang sebagian sudah dwibahasa. Saat kunjungan saya, di museum sedang ada pameran temporer berjudul ā€œWhere are You?ā€ yang singkatnya membahas tentang sejarah perkembangan teknologi orientasi seperti GPS. Baru di pameran temporer ini, tata pamernya bersifat interaktif. Pengunjung bisa mencoba menggunakan kompas, menghitung dengan konsep triangulasi, serta menggambar dengan pantograf, bahkan pengunjung bisa melakukan semacam treasure hunt dengan kompas di taman La Perle du Lac untuk menemukan titik-titik menarik di taman tersebut.

3. Museum of Art and History (MusƩe d'Art et d'Histoire)

Menempati bangunan kuno yang monumental, koleksi Museum Seni dan Sejarah bisa dibilang cukup fantastis. Sesuai namanya, koleksi museum dapat dibagi menjadi dua yaitu benda arkeologi dan karya seni. Koleksi arkeologinya mencakup benda-benda yang ditemukan dari penelitian arkeologi di sekitar Geneva, ditambah benda arkeologi yang berasal dari peradaban Mesir, Romawi, dan Yunani kuno. Koleksi karya seni dibedakan menjadi seni murni berupa lukisan dan patung, dan seni terapan berupa interior desain dan seni grafis. Sayangnya, kekurangan museum ini serupa dengan museum lainnya: tata pamernya yang tidak interaktif dan partisipatoris! Terlebih lagi, semua labelnya berbahasa Prancis, sehingga saya tidak menghabiskan waktu lama-lama di museum ini. Oya, sebenarnya di museum ini sedang ada pameran temporer yang berkaitan dengan kehidupan ksatria di abad pertengahan, tapi karena pamerannya berbayar dan budget saya terbatas, maka saya tidak masuk ke pamerannya.

4. Museum of Natural History (MusƩum d'Histoire Naturelle)


Satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan kesan saya terhadap museum ini: seram!! Walau saya percaya bahwa koleksi museum ini tidak main-main bagusnya dan memiliki potensi yang sangat besar, tapi tata pamer yang sangat biasa, yaitu binatang yang diawetkan di air keras dan ditata di vitrine sepanjang tembok, membuat saya jadi ketakutan sendiri. Lampu remang dan suasana museum yang sepi di siang hari kerja membuat museum jadi lebih menakutkan. Sebenarnya binatangnya ditata dalam pose yang realistik, dilengkapi dengan diorama latar belakang yang serupa atau berkesan simpel dan modern, lalu mereka dikelompokkan berdasarkan taksonomi atau tematis sehingga membuat pengunjung mudah memahami hubungan antar binatang, tetapi karena semuanya berada dalam kaca, koleksi-koleksi tersebut menjadi tidak menarik!


Untungnya pameran temporer berjudul 'Dinosaurus' bisa sedikit menebus "kesalahan" tata pamer eksibisi permanen museum ini. Berangkat dari penemuan fosil dinosaurus di Wyoming, Amerika Serikat baru-baru ini, Museum Sejarah Alam kota Geneva mencoba untuk mengedukasi pengunjung mengenai anggapan-anggapan salah tentang dinosaurus yang telah lama dikenal orang. Misalnya, anggapan bahwa dinosaurus itu bodoh, kejam, atau pun memiliki postur tubuh yang canggung. Ditambah lagi, museum menyajikannya secara kronologis mengikuti perkembangan penelitian mengenai dinosaurus dari masa lalu hingga masa kini, sehingga pengetahuan yang didapat sangat up to date. Hal menarik lainnya yaitu terdapat satu ruang kecil tempat pengunjung bisa bermain peran merasakan menjadi seorang paleontolog yang berusaha mencari tahu nama spesies dinosaurus pemilik fosil gigi yang ditemukannya di Maroko. Jika pengunjung berhasil menjawabnya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan replika gigi dinosaurus tersebut secara cuma-cuma. Seru ya!

5. Museum of Ethnography (MusƩe d'Ethnographie)

Museum Etnografi kota Geneva telah berdiri sejak awal abad ke-20, tetapi dua tahun lalu gedung barunya yang berarsitektur futuristik resmi dibuka untuk umum. Saya agak kecewa karena dari lima lantai hanya satu lantai yang didedikasikan untuk pameran. Itu pun harus dibagi antara pameran permanen dan pameran temporer. Saat saya berkunjung, pameran temporernya mengambil tema suku-suku yang tinggal di Amazon. Pameran permanennya sendiri berjudul 'The Archives of Human Diversity' dan yang saya kagumi, koleksinya benar-benar mewakili semua benua, dari Asia, Australia dan Oseania, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, serta Eropa. Selain keragaman koleksinya, museum ini juga sangat bangga akan keunggulannya pada bidang etnomusikologi. Selain koleksi alat-alat musik yang dipajang, pengunjung juga bisa mendengarkan bunyi alat-alat musik tersebut dengan bantuan headphone. Mengesampingkan tata pamer yang membuat pengunjung belajar secara pasif, di panil pembuka pameran, terasa jelas pameran tersebut dibuat dengan perspektif orang Eropa. Museum mencoba untuk menampilkan isu ā€œus versus othersā€ yang kerap menjadi momok bagi museum etnografi lainnya di seluruh dunia dengan memaparkan sejarah perolehan koleksi yang tentunya berasal dari kegiatan eksplorasi daerah-daerah koloni bangsa Eropa di masa lampau. Pada panil tersebut dijelaskan pula proses re-interpretasi yang dilakukan oleh museum terhadap benda-benda etnografi yang telah tercerabut dari konteksnya tersebut. Sayangnya ekspektasi saya terhadap museum yang seharusnya dapat lebih berani dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih jauh kepada pengunjung mengenai makna dari benda-benda tersebut tidak terpenuhi.


Kesimpulannya, saya kurang puas dengan presentasi (tata pamer) museum-museum publik di Geneva. Sebenarnya koleksinya sangat potensial untuk digali lebih jauh. Apakah faktor bebas tiket masuk ikut mempengaruhi pameran yang ada saya tidak tahu. Tetapi satu hal yang pasti adalah museum-museum publik di Geneva perlu memikirkan konsep accessible curatorship dalam melakukan interpretasi terhadap koleksinya. Minimal museum harus menambahkan label dan panil informasi berbahasa Inggris untuk mengakomodasi pasar yang lebih luas seperti turis. ~TF

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page