Konservaction: Program Kesiapsiagaan Bencana untuk Museum-Museum di Bali
- Saiful Bakhri
- 26 Mei 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

‘Kebakaran, Kebakaran! Apa ada yang terluka?’
Konservaction
Konservator dan staf museum di Bali beraksi dalam aksi tanggap darurat dan rencana pemulihan bencana untuk koleksi "tiruan" kami. Kepala Museum Puri Lukisan pun memastikan keamanan seluruh peserta terjamin.
Disinilah berlanjut paruh kedua lokakarya Manajemen Bencana yang diselenggarakan oleh kami, mahasiswa konservasi benda budaya dari University of Melbourne, Australia. Tapi bagaimana kami bisa sampai di Bali? Desember 2017 lalu, ketika Gunung Agung sedang aktif-aktifnya, kami mendapat grant dari kampus untuk menjalankan program Konservaction di Bali.
Kami terbang dari Australia ke Bali untuk berdiskusi mengenai rencana pemulihan bencana yang dimiliki oleh instansi budaya (terutama museum) yang mungkin terpengaruh dengan bencana gunung berapi ini.
Sembilan museum yang berpartisipasi dalam program Konservaction kami adalah: Museum Gedong Arca BPCB Bali, Museum Nyoman Gunarsa, Museum Batur Geopark, Museum Puri Lukisan, Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Museum Bali, Museum Le Mayeur, Museum Lukisan Sidik Jari, dan Balai Arkeologi Bali.

Sarkofagus koleksi Museum Gedong Arca BPCB Bali
Pra Kegiatan
Sebelum program Konservaction kami ini dimulai, kami melakukan survei kecil-kecilan untuk memastikan cakupan program kami. Enam dari Sembilan museum yang kami kunjungi menyatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana pemulihan bencana, tujuh diantara mereka menyatakan tidak memiliki tim tanggap bencana.
Padahal, sangat penting bagi museum untuk memiliki rencana tanggap bencana agar koleksi, staf, dan pengunjungnya aman dari bahaya.
Saat kunjungan, kami juga menemukan bahwa secara umum semua museum membutuhkan bantuan lebih dalam rangka persiapan letusan Gunung Agung.
The Project

Di dalam laboratorium konservasi Museum Gedong Arca
Setiap hari selama tiga minggu, kami bertemu dengan kepala museum, konservator, dan staf museum lainnya untuk berdiskusi mengenai koleksi museum. Mengenai hal ini, kami menyusun laporan lengkap terkait pengalaman kami dan informasi konservasi yang diperlukan oleh setiap museum.
Dimulai dari pilihan untuk menjaga stabilitas koleksi dari ancaman guncangan gempa bumi, bersarangnya serangga di ruang koleksi, sampai dukungan pemerintah dan bagaimana meningkatkan kunjungan turis ke museum mereka.
Kami mendiskusikan hal-hal yang setiap museum khawatirkan. Sekaligus berdiskusi mengenai resiko yang kami identifikasi ketika kunjungan. Misalnya, tidak tersedianya alat pemadam kebakaran dan pintu keluar darurat. Sungguh pengalaman dua arah yang tak terlupakan!
Program kami diakhiri dengan lokakarya satu hari. Pada bagian pertama lokakarya, kami mengembangkan garis besar kesiapsiagaan dan rencana pemulihan bencana untuk masing-masing museum.

Paruh pertama dari lokakarya: mengembangkan rencana kesiapsiagaan dan tanggap darurat
Museum-museum ini belum pernah saling bertemu sebelumnya dalam satu forum mengenai konservasi. Oleh sebab itu kami semua sama-sama bersemangat mendiskusikan solusi untuk masalah umum konservasi museum, terutama mengenai aktivitas gempa bumi, jamur, dan disasosiasi.

Paruh kedua dari lokakarya: beraksi memulihkan bencana
Setelah paruh pertama lokakarya selesai, suasananya "memanas" seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Kami bekerja sama untuk menyelamatkan koleksi ‘tiruan’! Peserta menggunakan katalog untuk mengecek dan memisahkan koleksi dari pecahan bencana, membilas kertas, serta membersihkan abu dari koleksi kayu dan batu.

Peserta berlatih membersihkan abu dari arca batu dan kayu
Saling Berbagi Pengetahuan Mengenai Konservasi

Tim Konservaction Alexandra Taylor mendemonstrasikan pembersihan basah dengan menggunakan "cotton swab"
Secara umum, program kami sangat diapresiasi. Tidak hanya membantu museum-museum di Bali agar lebih siap lagi menghadapi letusan dan gempa yang mungkin akan lebih parah, kami juga saling belajar pendekatan budaya masing-masing museum terhadap koleksi dan konservasi.

Tim Konservaction Laura Gransbury membicarakan berbagai macam peralatan konservasi
Contohnya, penggunaan kelerak untuk membersihkan koleksi logam yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di seluruh Indonesia, serta penggunaan sereh untuk membersihkan lontar. Konservator di Museum Gedong Arca memperlihatkan kepada kami bagaimana membersihkan logam dengan hati-hati menggunakan kelerak. 60 gram kelerak direndam dengan air panas selama setengah jam. Setelah itu, kulit kelerak yang akan menjadi lebih lunak harus pisahkan dari bijinya dan direndam kembali selama setengah jam. Lalu, pisahkan kulit dari air rendaman, dan masukkan logam yang perlu dikonservasi. Diamkan selama kurang lebih 24 jam. Proses ini memungkinkan untuk diulang selama 2-3 kali agar lapisan perusak dapat terlepas dari logam.

Biji Kelerak dan koin logam yang belum dan telah dibersihkan dari masa Bali klasik
Konservator Museum Bali, Ari Sukma, mendemonstrasikan konservasi lontar berumur 100-400 tahun mengunakan 50:50 larutan alkohol dan minyak sereh. Minyak sereh dapat mempertahankan fleksibilitas lontar sementara alkohol dapat menangkal tumbuhnya jamur. Caranya, kapas dicelupkan ke dalam larutan, lalu diperas untuk mengurangi cairan yang berlebih, kemudian diusapkan pada lontar secara satu arah dari kiri ke kanan.

Membersihkan lontar menggunakan minyak sereh di Museum Bali
Kolaborasi Selanjutnya
Lima dari enam museum yang mengikuti survei akhir menyatakan keinginan mereka untuk melanjutkan hubungan jangka Panjang dengan University of Melbourne.
Mereka menyatakan bahwa Konservaction merupakan program yang menarik dan sangat berpotensi untuk berkembang.
Kegiatan lokakarya sebagai bagian dari program kami diterima dengan baik dan kami berharap dapat melanjutkan pengalaman ini untuk mahasiswa dan staf museum lain di Indonesia di masa yang akan datang.
Pst! Kalau penasaran ingin melihat lebih banyak foto dan cerita yang lebih lengkap, atau ingin berdiskusi lebih dalam mengenai konservasi, silahkan follow @konservaction di Facebook dan Instagram!
Acknowledgement Kami sangat berterima kasih kepada mentor kami, Dr Marcelle Scott dan Dr Nicole Tse, serta University of Melbourne atas dukungannya secara finansial kepada program ini melalui Student Engagement Grant.
This guest post was written by: Saiful Bakhri, Lisa Mansfield, Alexandra Taylor & Laura Gransbury




Komentar